Selametan Rumah Belajar Semi Palar

“Kak Andy, gimana dengan rasa nasionalisme di sini? Rasanya khawatir juga, anak-anak sekarang kok ngga sekuat jaman kita sekolah dulu ya? Menurut saya rasa nasionalisme itu penting sekali ditanamkan kepada anak-anak.” Ini yang jadi pertanyaan saya kepada Kak Andy dalam diskusi waktu Cayla akan bergabung di Rumah Belajar Semi Palar.

Menuju Acara Selametan
Sudah sejak beberapa hari yang lalu Cayla cerita, setiap hari anak SMP latihan baris berbaris di sekolah, katanya latihan itu persiapan untuk upacara di kegiatan tahunan Selametan Rumah Belajar Semi Palar. Ngga hanya anak-anak yang buat persiapan, orang tua juga diminta perwakilannya dari tiap kelas, mulai KB sampai SMA semua dilibatkan untuk jadi ketua-ketua kelompok, kelompok yang nantinya berisi gabungangan anak-anak, orang tua dan keluarga, yang membaur dari tiap jenjang yang berbeda-beda.

Waktu hari H makin dekat, sekolah mengeluarkan pengumuman lanjutan berkaitan acara Selametan, pembentukan kelompok-kelompok keluarga yang anggotanya ditentukan oleh sekolah, kelompok-kelompok itu harus dinamai dengan nama pulau terluar Indonesia, tiap keluarga juga harus bawa foto tempat terjauh yang pernah dikunjungi di Indonesia dan membawa kain khas Nusantara, semuanya berkaitan dengan Indonesia. Selain itu diumumkan ketentuan selama acara berlangsung,  penyediaan makanan masing-masing kelompok dilakukan dengan cara botram, dan sesuai dengan hal-hal yang diterapkan kepada anak-anak di sekolah, makanan ngga boleh berlebih juga ngga boleh kurang. Dalam kaitan menjaga lingkungan yang diterapkan kepada anak-anak setiap peserta juga diminta mengurangi penggunaan kemasan-kemasan sekali pakai, menghemat penggunaan tisu selama acara, juga sebisa mungkin ada penggunaan kendaraan bersama untuk mencapai lokasi Selametan.

Screenshot_20170814-184743

Kesannya repot ya, tapi kan ngga apa-apa repot sedikit, untuk sesuatu yang baik, memang harus ada usaha, membangun karakter dan nilai-nilai baik untuk anak-anak, harus ada kesamaan antara sekolah dan keluarga, hitung-hitung membiasakan diri dan keluarga untuk hal-hal yang belum terbiasa. Sejauh ini semua kelihatan baik dan positif, semoga kegiatannya berjalan baik dan berhasil baik.

Hari H
“Silakan foto-foto kunjungan tempat terjauh dikumpulkan, lalu setelah berdoa, kelompoknya langsung dibagi ya yang pilih tantangan perjalanan, tugasnya menyusuri lintasan yang ada tanda tali merah untuk mencapai pos yang dituju, yang memilih tantangan permainan langsung ke tempat permainan.” Begitu penjelasan yang disampaikan sewaktu kelompok Jiew, nama pulau terjauh pilihan untuk kelompok kami, lengkap hadir dan dapat masuk ke tempat Selametan.

Syarat masuk tempat acara memang anggota kelompok harus lengkap. Hmmm… banyak nilai-nilai yang bisa diambil, satu sama lain harus menghargai teman yang sudah lebih dulu datang, segera kompak dalam kelompok walau belum bertemu muka, membiasakan saling koordinasi. Kelompok Jiew, melalui aplikasi whatsaap janjian menggunggah foto saat berangkat ke lokasi supaya mudah mengenali sebelum masuk tempat acara.

Acara Selametan
Rasa lelah yang dialami kelompok Jiew yang memilih tantangan perjalanan langsung hilang begitu lihat sepasang air terjun yang bagusnya luar biasa di depan mata, percikan airnya mengganti nafas yang terengah-engah. Di pos ini ada tantangan untuk mengambil bendera merah putih yang terapung dalam botol pada kolam kecil alami di bawah air terjun. Setelah berhasil dapatkan bendera, perjalanan dilanjutkan kembali, jalannya nanjak terus lho dan harus hati-hati, terlebih waktu berpapasan dengan kelompok lain, harus bergantian meniti jembatan, bergantian melalui jalan yang sempit, jangan sampai terperosok ke lereng bukit yang curam. Sampai di pos terakhir ada tantangan untuk membuat puisi tentang rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia. Setelah tantangan itu terselesaikan perjalanan dilanjutkan ke area permainan tempat kelompok Jiew lainnya yang sedang berusaha mengumpulkan poin untuk memenuhi target dari tantangan permainan.

IMG-20170812-WA0038

Di area permainan, kelompok Jiew yang memilih tantangan permainan diwajibkan mengumpulkan balok-balok “hadiah” minimal 30 buah balok dan mengumpulkan ranting-ranting dan daun kering .

Permainan yang harus diselesaikan seru-seru, harus cerdik, kompak, sabar menyelesaikannya. Kotor dan basah menambah keseruan permainan.
Tantangan permainan antar kelompok selesai sudah, selanjutnya sebelas kelompok peserta yang hadir di acara Selametan diberi tugas yang lebih besar, membuat peta Indonesia seukuran lapangan rumput bersama-sama. Setiap kelompok diberi petunjuk secarik kertas bergambar peta dan potongan peta yang harus dibuat oleh masing-masing kelompok untuk kemudian digabungkan. Peta dibuat dari bahan kertas yang tersedia, ranting dan daun dari permainan sebelumnya. Sudah tentu hasil potongan peta yang dibuat satu kelompok  harus nyambung dengan kelompok lainnya, ini menuntut kerja sama yang baik di dalam kelompok dan antar kelompok.
Peta Indonesia raksasa itu selesai sudah dibuat bersama dengan segala upaya dilengkapi dengan foto-foto keluarga yang dikumpulkan di awal permainan sebagai penanda garis terluar  peta Indonesia  tersebut. Anak-anak KB dan TK melengkapinya dengan balok-balok “hadiah” yang disusun memagari peta tersebut.

Melihat peta ini selesai ada rasa senang dan bangga, bayangkan saja, seakan-akan seluruh keluarga siap jadi barisan terdepan menjaga keutuhan negara, bahkan genersai yang termuda pun ikut membentengi Indonesia.

Upacara

Hari ini ternyata bukan upacara biasa, seperti upacara-upacara lain yang pernah saya ikuti. Upacara hari ini membuat dada terasa bergemuruh dan air mata berderai.

IMG-20170813-WA0006

Seluruh peserta diminta berdiri mengelilingi peta Indonesia di lapangan rumput.
Upacara dimulai, perwakilan kelompok membawa bendera yang diraih saat berhasil mencapai pos air terjun dan menancapkannya di pulau-pulau Indonesia. Rasa haru mulai merambati hati, kami menyanyikan Lagu Padamu Negri  bersamaan dengan hadirnya barisan anak-anak SMP yang membawa bendera merah putih dan patung Sang Proklamator, Bung Karno dan Bung Hatta. Barisan bait-bait puisi yang dibuat di akhir tantangan perjalanan juga dibacakan dengan heroik. Air mata tak lagi bisa ditahan sewaktu pembina upacara mengingatkan bahwa keberadaan kita di sini untuk “Menjaga Bumi Indonesia”.
Begitu dalam terasa, menjaga bumi Indonesia itu berproses dengan segala upaya dari semua lapisan, bekerja sama, saling mengerti dan bersinergi agar terwujud. Semua hal yang dilakukan pada Selametan hari ini menggambarkannya, membekaskan pelajaran tak ternilai dalam hati kami.

Upacara menjadi penutup rangkaian acara Selametan. Selametan, tanda dimulainya kegiatan di Rumah Belajar Semi Palar untuk satu tahun ke depan. Semoga dengan kegiatan yang dilaksanakan hari ini, kesadaran untuk Menjaga Bumi Indonesia semakin kuat, kita belajar bersama-sama, tidak hanya anak-anak tapi seluruh keluarga dalam Rumah Belajar Semi Palar

Masih terngiang barisan syair Indonesia Pusaka di akhir upacara,”…. Indonesia tempat lahir beta, pusaka abadi nan jaya, di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata…”

Pertanyaan saya kepada Kak Andy di awal diskusi terjawab hari ini, Sabtu, 12 Agustus 2017.

– Nurul, orang tua Cayla siswa kelas 7-

Advertisements

One thought on “Selametan Rumah Belajar Semi Palar

  1. Halo Nurul, terima kasih banyak sudah berbagi cerita tentang Selametan Semi Palar di sini. Senang membacanya. Semoga jadi awalan yang baik untuk proses Qayla dan kita semua di Semi Palar di waktu-waktu mendatang. Ijin follow juga blognya ya… Hatur nuhun… 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s